Ini komik ke empat dari Godam. Saya jadi penasaran sama Dr. Setan yang selalu mencari "host" yang bisa ditempati untuk berbuat kejahatan. Komik ini dari segi cerita cukup baik dibandingkan dengan Laba-Laba Merah Kontra Manusia Kadal, yang diawal ceritanya banyak menggunakan istilah yang sok-ilmiah yang tidak anda mengerti waktu anda SD dan terlihat lucu waktu anda membacanya lagi pada umur 30 tahun.
Sedangkan Wid NS selalu menyisipkan unsur humor dalam ceritanya; seperti ungkapan Hippies yang bisa terbang. Saya jadi membayangkan seperti apa Hippies yang ada di Jogja pada waktu itu yang menjadi inspirasi Wid NS, dan juga para pengawal "Tuan Pemimpin" bisa ngomong "Hopo Tumon" sewaktu Godam tidak mempan ditembak. Belum lagi penamaan tokoh yang terkesan main-main. Saya bukannya mau membanding-bandingkan Wid NS lebih bagus dari Kus Bram, atau Ganes TH penokohannya tetap terjaga. Saya cuma mau komik-komik saya yang dirombeng dulu dicetak ulang.
...Dan permainan umbulan ada lagi.
Sayangnya komik ini tidak urut diterbitkannya, saya baca Bocah Atlantis tahun 1983-1984, Mata Sinar X tahun kemaren, dan Mencari Jejak Mayat kemaren sore. Dan saya nggak tau siapa yang memegang lisensi penerbitan ulang komik Godam ini. Untuk Mata Sinar X yang menerbitkan KomikIndonesia, tapi Mencari Jejak Mayat diterbitkan oleh Anjaya Books. Nggak apa-apa siapa yang menerbitkan, yang penting ada!
===
Saya cuma butuh waktu setengah jam untuk menghabiskan komik setebal 128 halaman ini. Mungkin kalo buku Analisis Multivariat setebal 128 halaman baru selesai satu semester. Soalnya dulu inget waktu SD, baca buku Bocah Atlantis menghabiskan waktu seminggu lebih, kalo nggak salah komik itu ada 8 jilid. Belum lagi Badai Teluk Bone (ini yang senjatanya pake pisau terbang itu kan? - CMIIW)
PS:
Saya baru tahu vokalisnya Kerispatih yang namanya Sammy itu. Saya jadi membayangkan gimana si Sammy itu kalo ngerokok Dji Sam Soe. Jangan-jangan tembakaunya rompal semua :))